Pelatihan Pers : Start to be Critical Journalist in Crisis Era

  1. Seputar Acara

Biro Lemma dari jurusan Matematika Universitas Diponegoro mengadakan pelatihan pers pada hari Minggu, 23 Mei 2021 secara daring melalui media Zoom dengan tema “Start to be Critical Journalist in Crisis Era”. Tema ini diusung karena banyaknya informasi hoax yang membutuhkan pemikiran yang kritis agar tidak mudah termakan berita bohong. Selain itu, kita sedang berada pada era yang kurang memungkinkan atau sedang mengalami krisis, yaitu era pandemi covid-19.

Pemateri dalam pelatihan pers tahun ini adalah Myra Azzahra. Beliau adalah seorang news anchor TVKU juga seorang moderator dan pembawa acara profesional. Beliau pernah mendapatkan penghargaan “Presenter Wanita Terbaik” dalam acara Anugerah Penyiaran KPID Jawa Timur pada tahun 2018 dan 2019.

Kegiatan pelatihan pers dihadiri berbagai mahasiswa dari universitas yang tersebar di Indonesia. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok yang sudah ditentukan oleh panitia pelatihan pers. Kegiatan berlangsung dengan interaktif. Peserta acara juga diminta untuk melakukan presentasi dari hasil diskusi bersama teman kelompok mereka secara singkat mengenai suatu persoalan yang diberikan dalam pelatihan pers. Sesi tanya jawab juga dilakukan menjelang akhir acara.

Pada akhir acara, pemberian plakat dilakukan oleh Qatrunnada Refa Cahyani selaku ketua pelaksana kepada pembicara pelatihan pers tahun ini, yaitu Myra Azzahra dan sesi foto bersama diadakan.

  1. Pemaparan Materi

Jurnalisme adalah pekerjaan mengumpulkan dan menulis berita di media massa cetak atau elektronik; kewartawanan (KBBI daring, https://kbbi.kemdikbud.go.id/, 2016). Kemudian, jurnalistik adalah yang semua hal yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran (KBBI daring, https://kbbi.kemdikbud.go.id/, 2016). Jurnalis adalah profesi atau orang yang bergerak dalam bidangnya. Jurnalisme adalah kata benda dan jurnalistik adalah kata sifat.

Jurnalistik menyampaikan berita dalam berbagai media, seperti media cetak (surat kabar), media elektronik (radio dan televisi), dan media online (berita-berita di media online atau media sosial). Penyampaian berita terikat dengan kode etik jurnalistik. Kode etik jurnalistik adalah himpunan etika profesi kewartawanan. Wartawan dibatasi oleh Undang-Undang Pers no. 40 tahun 2019, di mana dalam bab I pasal 1 ayat (1), dicantumkan pengertian pers adalah sebagai berikut.

“Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.”

(Sumber  :       Komisi Informasi Pusat, https://komisiinformasi.go.id/?p=1840, diakses pada Selasa, 26 Mei 2021, pukul 10.18 WIB)

Tujuan dari adanya kode etik dan undang-undang ini adalah agar wartawan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, yaitu mencari dan menyajikan informasi. Jurnalis harus dapat mencari dan menyajikan dan tidak boleh untuk kehilangan salah satu dari unsur tersebut. Kode etik jurnalistik memiliki beberapa hal sebagai berikut.

  1. Wartawan Indonesia bersikap independen dalam menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

  2. Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

  3. Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

  4. Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

  5. Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

  6. Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

  7. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang dan off the record sesuai dengan kesepakatan.

  8. Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

  9. Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

  10. Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat, disertai permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan pemirsa.

  11. Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Jurnalis kritis adalah jurnalis yang berani. Jurnalis kritis berani menyampaikan kebenaran. Jurnalis kritis mampu menyampaikan kebenaran, bahkan dalam lingkungan diri sendiri (contohnya mahasiswa dalam lingkungan universitasnya). Jurnalis kritis menyuarakan kebenaran melalui tulisan, reportase, dan analisis yang disertai fakta, sesuai dengan kode etiknya sebagai pewarta informasi publik. Banyak pihak akan merasa risih terhadap jurnalis kritis, tetapi jurnalis mempertaruhkan nyawanya demi sebuah kebenaran. Jurnalis kritis bukan terbentuk untuk mencari penghargaan dan penghormatan karena seorang jurnalis yang kritis lebih sering dicemooh pada kenyataannya.

Kita sedang menghadapi masa pandemi. Pandemi menghantam semua sektor termasuk industri media massa yang berhadapan dengan disrupsi digital. Kita sedang menatap masa depan dari media massa. Nilai-nilai baru akan diadopsi. Kita akan sering menggunakan media-media yang mendukung kegiatan daring, mengadakan seminar-seminar online dalam kegiatan kita, bahkan begitu juga dalam dunia media massa. Keberadaan media massa menjadi indikator penting dari kesehatan demokrasi negara. Tanpa media yang sehat, negara juga tidak akan sehat. Pers bertindak selayaknya sebagai pilar keempat dalam kehidupan bernegara atau berdemokrasi.Kita sedang menghadapi masa pandemi. Pandemi menghantam semua sektor termasuk industri media massa yang berhadapan dengan disrupsi digital. Kita sedang menatap masa depan dari media massa. Nilai-nilai baru akan diadopsi. Kita akan sering menggunakan media-media yang mendukung kegiatan daring, mengadakan seminar-seminar online dalam kegiatan kita, bahkan begitu juga dalam dunia media massa. Keberadaan media massa menjadi indikator penting dari kesehatan demokrasi negara. Tanpa media yang sehat, negara juga tidak akan sehat. Pers bertindak selayaknya sebagai pilar keempat dalam kehidupan bernegara atau berdemokrasi.

Pandemi membangun batasan dalam berinteraksi, tak terkecuali bagi jurnalis. Ketika dihadapkan dengan situasi seperti bencana, jurnalis relatif masih bebas bergerak di lapangan dalam mencari informasi. Sebagian kebebasan itu terenggut akibat adanya pandemi ini. Di sisi lain, pemerintah yang melalui gugus tugas menjadi sumber utama informasi dasar terkait perkembangan pandemi. Jurnalis menghadapi banyak tantangan pada era yang krisis ini. Tetapi, jurnalis tetaplah menjadi part of the solution dan bukan menjadi part of the problem dalam menyajikan informasi kepada masyarakat.

Wartawan merupakan ujung tombak dalam menangkal berita bohong (hoax) yang makin banyak beredar di media sosial dengan melaksanakan tugasnya secara profesional sesuai kode etik jurnalistik. Hoax bukan menjadi sebuah produk jurnalistik, namun seringkali dikaitkan dengan pemberitaan. Oleh karena itu, wartawan harus bisa menangkalnya dan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, tentu tetap berpegang kepada kode etik jurnalistik.

Beberapa tips atau saran dapat menjadi pedoman untuk terbentuk sebagai jurnalis yang hebat, terlebih pada era pandemi ini. Tips tersebut adalah sebagai berikut. 

  1. Rajin membaca (berita/literatur terkini dengan data yang jelas).

  2. Mengikuti perkembangan berita yang beredar.

  3. Perbanyak latihan menulis.

  4. Pahami penggunaan tata bahasa yang baik.

  5. Jangan malu belajar dari jurnalis lain.

Leave A Comment